Di Balik Dugaan BIN Merecoki Diskusi Papua di Universitas Lampung

Post Reply
asepx
Maba
Posts: 43
Joined: 15 Jun 2020, 13:15

Di Balik Dugaan BIN Merecoki Diskusi Papua di Universitas Lampung

Post by asepx »

Para pengurus Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra di Universitas Lampung sebagai korban teror dan peretasan. Penyebabnya, mereka mengadakan diskusi bertajuk, "Diskriminasi Rasial terhadap Papua, #PapuaLivesMatter".

Acara diskusi tersebut berusaha diintervensi oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Dugaan itu muncul waktu Wakil Rektor Kemahasiswaan & Alumni Prof. Yulianto memanggil pengurus UKPM Teknokra. Yulianto minta diskusi ditunda atas dalih dia ditekan oleh BIN.

“Prof. Yulianto membicarakan buat menahan diskusi yang diselenggarakan oleh Teknokra karena dihubungi BIN. Prof. Yulianto menyarankan menambahkan pembicara diskusi,” istilah Pemimpin Redaksi UKPM Teknokra Mitha Setiani Asih kepada reporter Tirto, Kamis (11/6/2020).

Mitha merupakan moderator diskusi tersebut. Nama dan fotonya terpampang dalam poster diskusi. Akun aplikasi ojek daring Mitha sempat direta buat melakukan pemesanan makanan secara massal.

Awalnya, istilah Mitha, dia mendapat kode OTP atau pengganti password sekali gunakan melalui SMS. Setelahnya, akun Whatsapp Mitha diberondong telepon & chat dari beberapa pengemudi ojek daring. Mereka tahu lokasi Mitha.

Selain itu, beberapa pengurus & alumni UKPM Teknokra pula diteror melalui telepon & pesan singkat. Peneror mengancam & menuduh mereka melakukan provokasi. Bahkan Pemimpin Umum UKPM Teknokra Chairul Rahman Arif sebagai korban doxing. Identitas pribadinya & orangtuanya yang susuai menggunakan KTP, disebarkan.

Tak berhenti hingga pada situ. Para peneror juga melakukan percobaan peretasan akun-akun sosial media UKPM Teknokra, Mitha, & seorang alumni.

Rentetan teror itu membuat Mitha & rekan-rekannya mengungsi ke tempat tinggal aman. Intimidasi berupa teror yg dialamatkan kepada awak dan alumni Teknokra itu, diproses melalui jalur aturan.

“Kami sudah membuat pelaporan,” lanjut Mitha. “Kami mendesak kepolisian mengusut tuntas aksi teror & peretasan terhadap jurnalis Teknokra.”

Meski begitu, dikusi jalan terus. Tetap berlangsung 11 Juni, pukul 10.00. Pembicaranya sesuai harga mobil honda 2020 rencana awal: Mantan tahanan politik & Juru Bicara Front Rakyat Indonesia buat West Papua Surya Anta Ginting, Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Jhon Gobai, dan Tantowi Anwar dari Serikat Jurnalisme buat Keberagaman.

Teror ke Diskusi soal Papua Dikecam

Teror, doxing, atau kendala yg lain terhadap penyelenggara diskusi terkait penegakan HAM bangsa Papua terus berulang. Sebelumnya, dalam awal Juni yang lalu, terhadap BEM Universitas Indonesia (UI). Rektorat UI menduga agenda diskusi tadi tidak layak diselenggarakan dan menyalahi tata aturan.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menduga, ada poly pihak yg mencoba menutupi pelanggaran HAM yg terjadi di Papua. Sehingga diskusi-diskusi menyoal Papua, tak pernah berjalan mulus & berulang kali mengalami intimidasi.

“Selama ini kan, narasi pemerintah makar. Padahal poly sekali yang dituduh makar cuma melakukan aksi damai,” ujar Asfinawati pada reporter Tirto, Jumat (12/6/2020).

Infografik Pemblokiran Akses Internet pada Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

Infografik Pemblokiran Akses Internet di Papua & Papua Barat Melanggar Hukum. Tirto.Id/Sabit

Asfinawati mengecam dugaan keterlibatan BIN dalam diskusi yg diselenggarakan mahasiswa pada kampus. Tak semestinya BIN turut campur pada daerah akademis yg menjunjung kebebasan berpikir dan berpendapat.

“Intelijen itu kan mengumpulkan informasi, menyerahkan ke aparat penegak aturan bukan bertindak sendiri. Apalagi subjeknya adalah hak yg dijamin konstitusi,” ujarnya.

Lebih pada Asfinawati melihatnya sebagai kebangkitan pola yg serupa zaman Orde Baru. Kampus-kampus diintervensi intelijen.

“Jangan-jangan telah jadi pola. Lantaran beberapa diskusi khususnya tentang beberapa isu misalnya Papua, rektorat dan atau dekanat meminta buat dibatalkan,” ujarnya.
BIN: Boleh Diskusi Asal Menegakkan Nasionalisme

Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto mengungkapkan tidak ada pelarangan buat masyarakat mengadakan diskusi mengenai Papua. Asalkan, wajib berimbang, & berpegang pada kaidah ilmiah.

“Yang penting kita permanen pegang teguh nasionalisme kita,” ujarnya kepada reporter Tirto, Kamis.

Wawan menampik kabar BIN mengintervensi diskusi Papua yang diselenggarakan oleh UKPM Teknokra Universitas Lampung. Dia berdalih, teror & intervensi tersebut dilakukan sang pihak nir bertanggungjawab yang mengatasnamakan BIN.

“BIN nir perlu hegemoni, akan tetapi akan meluruskan jika terdapat yang nir benar pada warga . Lantaran itu warga perlu literasi,” ungkapnya.

Ia jua menambahkan bahwa BIN nir pernah mengintimidasi pada merespons suatu isu. “Tapi kalau ada yg nir pas, ya wajib disampaikan pada saudara termuda-adik mahasiswa yg disampaikan jua melalui lembaga terbuka,” imbuhnya.

Menurutnya pada dilema Papua, BIN sangat menghargai masukan-masukan yg diberikan oleh aneka macam kalangan termasuk civitas akademika. Dia mengibaratkan mahasiswa menjadi rekan kerja BIN.

“Kita bekerja sama menggunakan semua elemen mahasiswa jadi bukan memantau akan tetapi berpartner,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi ulang, Wakil Rektor Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Lampung Yulianto, menyangkal sudah ditelepon orang dari BIN. Tetapi dia mengakui memanggil pengurus UKPM Teknokra untuk menahan atau membatalkan diskusi.

"Itu himbauan saya pada Teknokra lantaran aku sebagai penasehat UPKM tadi. Wajarlah aku menduskusikannya," kata Yulianto
Post Reply