Memikat Kaum Milenial Tekuni Agroekoteknologi

Post Reply
melayuliani
Maba
Posts: 4
Joined: 16 Jun 2020, 09:13

Memikat Kaum Milenial Tekuni Agroekoteknologi

Post by melayuliani »

Penyusutan lahan pertanian ke nonpertanian di Bali homogen-homogen berkisar 800-1.000 hektar per tahun. Penyusutan huma pertanian terjadi terutama pada kawasan wisata seperti Kuta, Nusa Dua (Kabupaten Badung), Kota Denpasar, dan Kabupaten Tabanan. Di daerah Kota Denpasar misalnya, huma pertanian di wilayah Subak Mergaya, Kecamatan Denpasar Barat menyusut drastis.

Jika dalam tahun 1976, huma pertanian pada Subak Mergaya 183 hektar, maka pada tahun 2012 menyusut menjadi 90 hektar (Pemkot Denpasar, 2013). Selain di Subak Mergaya penyusutan lahan pertanian pula terjadi pada wilayah lumbung padi Bali, yakni pada Kabupaten Tabanan.

Total luasan sawah pada Kabupaten Tabanan tahun 2011 adalah 22.435 hektar, turun sebagai 21.962 hektar tahun 2014, & 21.089 hektar tahun 2017 (BPS Bali, 2018). Sejalan dengan penyusutan sholat huma pertanian, donasi sektor pertanian buat PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Bali juga menurun. Sumbangan sektor pertanian untuk PDRB Bali pada tahun 2010 sebanyak 17,dua % menurun sebagai 13,8 persen pada 2018 (BPS Bali, 2018).

Di samping adanya penyusutan lahan, sektor pertanian di Indonesia jua mengalami kemandekan (involusi pertanian), membuahkan pertanian hanya menjadi loka penampungan penduduk yg terus bertambah. Secara alami fenomena involusi pertanian ini terjadi karena di satu sisi luas huma pertanian bersifat statis, terbatas, bahkan mengalami penyusutan, di sisi lain jumlah anggota keluarga petani terus bertambah.

Tanah sepetak yang luasnya mini milik famili petani, harus dibagi-bagi lagi sebagai lebih mini -mini buat dibagikan ke anak-anaknya, agar setiap anggota famili yang semakin bertambah poly itu memperoleh haknya, menerima jatah buat hidup meski dengan luasan lebih kecil. Inilah yang dimaksud oleh Geertz (1970) sebagai shared poverty atau kemiskinan terbagi.

Fenomena kemiskinan dibagi rata ini diperkuat dengan prinsip mangan ora mangan waton ngumpul (makan tidak makan asal kumpul), suatu sistem budaya yang didasari sang budaya gotong royong, kekerabatan & semangat komunal yg begitu kental pada lingkungan komunitas petani setempat. Budaya petani yg cenderung statis, sulit move on ini membuahkan petani statis, sulit maju dan berkembang.

Petani Milenial

Sejalan menggunakan menyusutnya huma pertanian, sekarang pekerjaan sebagai petani hanya ditekuni oleh generasi tua yg berumur 50 tahun ke atas, sedangkan generasi muda Bali, yaitu anak-anak petani enggan sebagai petani melanjutkan profesi orang tuanya. Bahkan ketika panen tiba, petani pada beberapa kabupaten pada Bali, misalnya Denpasar, Badung, Tabanan, dan Jembrana mendatangkan tenaga kerja buat memanen padi menurut Pulau Jawa, misalnya menurut Banyuwangi.

Mengapa generasi milenial Bali enggan menjadi seorang petani? Pertama, keengganan generasi milenial Bali menjadi petani disebabkan sang faktor gengsi, bertani berkubang lumpur, secara perhitungan ekonomi pengelolaan pertanian tradisional selama ini tidak menjanjikan kesejahteraan. Pendapatan bisnis tani yang diperoleh petani tradisional Bali lebih kecil dibandingkan dengan penghasilan pada sektor jasa pariwisata dan sektor lainnya.

Hal ini secara kentara ditunjukkan sang perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani (NTP). Menurut BPS (2018), perkembangan NTP Bali pada 3 tahun terakhir yaitu tahun 2016 sebanyak 106,19 tahun 2017 sebanyak 104,69 & tahun 2018 menurun menjadi 103,48. NTP Bali yang cenderung menurun menandakan kesejahteraan petani Bali cenderung menurun.

Kedua, lebel atau status pekerjaan petani dipercaya lebih rendah dan kotor daripada pekerjaan lainnya. Kendati mempunyai hektaran sawah atau kebun, atau menjadi petani kaya (tuan tanah) namun merasa statusnya masih rendah, dibanding menggunakan status profesi lainnya. Akibat dari pelabelan “derajat petani yg rendah” ini, sebagian petani menghendaki agar anaknya bekerja di sektor lain, misalnya sebagai TNI, guru, ASN, pegawai bank, pegawai swasta, atau sektor jasa lainnya yg dipercaya lebih bergengsi. Ironisnya, upaya memperoleh pekerjaan di luar petani tersebut dilakukan dengan menjual sebagian lahan pertaniannya untuk modal.

Agar sektor pertanian permanen eksis atau berkelanjutan, maka dibutuhkan generasi melenial yang bisa sebagai petani masa sekarang dengan menerapkan teknologi industri 4.0. dan lebih spesifik di pertanian dikenal menggunakan kata teknologi pertanian 4.0. (Agriculture 4.0). Bali membutuhkan generasi petani milenial yang bisa mengelola sistem pertanian modern sinkron era revolusi teknologi industri 4.0 waktu ini yg ditandai dengan digitalisasi & otomatisasi di segala bidang kehidupan.

Generasi milenial Bali wajib mempersiapkan skill, mempunyai perilaku yang baik (behavioral attitude), memperbaiki kualitas asal daya manusia, menaikkan kompetensi diri di era global. Generasi milenial Bali wajib pintar menata diri dan siap berkompetisi secara global. Generasi milenial Bali pula harus mengambil kiprah aktif, menjadi pemain (subjek) sesuai minat & talenta masing-masing. Generasi milenial Bali dituntut mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, & inovatif pada segala bidang, termasuk mampu mengelola sistem pertanian terbaru yg lebih berdaya saing.

Agroekoteknologi

Pada era teknologi 4.0, implementasi agroekoteknologi antara lain adalah: (a) Smart Irrigation System. “Sistem irigasi pandai ” ini mampu memantau cuaca, syarat tanah, penguapan, penggunaan air tanaman menggunakan kondisi aktual lokasi, dan menyesuaikan jadwal penyiraman secara otomatis. Misalnya, waktu suhu pada luar ruangan meningkat atau curah hujan menurun, maka pengontrol irigasi pintar akan mempertimbangkan variabel spesifik lokasi, misalnya jenis tanah, buat tingkat pelaksanaan penyiram. Irigasi pandai , dimanfaatkan buat mengatur kelembaban tanah sehingga tanah tidak gersang lagi dan bisa menjadi lembab sesuai menggunakan kebutuhan tanaman .

Pengendali sistem irigasi ini secara signifikan mempertinggi efisiensi penggunaan air di luar ruangan; (b) Smart Green House, merupakan tempat tinggal yang dilengkapi dengan upaya pengaturan terhadap cahaya, air dan hal yang memengaruhi pertumbuhan flora menggunakan kualitas yg terbaik. Keunggulannya merupakan dapat diakses memakai Smartphone, bisa diakses di mana saja dan kapan saja asal smartphone terkoneksi menggunakan internet. Smart Green House sudah diterapkan oleh para petani Israel pada huma gurun berpasir yg menghasilkan berbagai macam produk sayuran & anggur; (c) Mekanisasi pertanian, termasuk yang diwujudkan dalam bentuk teknologi.

Automatic Tractor, sebuah teknologi pada mana petani bisa mengontrol traktor menggunakan menggunakan remote (remote control). Dalam dasawarsa mendatang, pertanian diperlukan akan direvolusi menggunakan memakai traktor & robot yg bisa mengemudi sendiri yang bisa melakukan tugas-tugas yang menyita ketika yg kini dilakukan sang manusia; (d) Perlu melakukan penelitian & pengembangan secara berkesinambungan buat menciptakan produk pertanian yg unggul, berkualitas & mempunyai daya saing.

Untuk menghadapi revolusi industri ini, maka angkatan kerja yg akan menghadapi revolusi industri wajib dipersiapkan menggunakan matang. Caranya menggunakan mempertinggi keterampilannya buat tahu penggunaan teknologi atau kemampuan menggabungkan teknologi dalam industri nantinya. Hal ini adalah nilai tambah bagi tenaga kerja sehingga dapat permanen mengikuti perkembangan pada industri 4.0.

Oleh karena itu, pelajaran tentang teknologi atau pengaplikasian teknologi dalam banyak sekali aktivitas di sekolah & pada perguruan tinggi serta pada masyarakat harus lebih digencarkan dan disosialisasikan. Jadi, prinsipnya untuk memikat generasi milenial bekerja di pertanian harus menerapkan agroekoteknologi 4.0, yaitu pertanian terbaru berwawasan lingkungan & menggunakan kemajuan tekologi industri 4.0.

Bilamana petani Bali sanggup menghasilkan produk pertanian berkualitas & berdaya saing tinggi, dan mampu memasarkannya di pasar global, maka otomatis kepercayaan diri dan pandangan hidup kerja kuat petani bisa terbangun. Label petani yang selama ini dipercaya menjadi “jenis pekerjaan atau profesi rendahan” sanggup disingkirkan sejalan menggunakan menaikkan gambaran positif petani.

Jadi, buat menarik minat generasi belia mau bertani, menggunakan membuahkan pertanian menjadi industri yang menjanjikan seperti sektor lain yg dikelola secara bisnis dan terkini, dan yang nir kalah penting adalah kiprah pemerintah pada memfasilitasi industri 4.0 lewat regulasi & aturan. Alhasil, terdapat payung hukum bagi pelaku bisnis dan generasi milenial.
Post Reply