Page 1 of 1

Konsep Insan Kamil dan Cara Mengenal Diri Sendiri

Posted: 10 Jan 2020, 00:16
by firmansahadi
Pesan yang seringkali dikatakan oleh beberapa motivator ialah supaya satu orang jadi dirinya. Jadilah diri kita! Be yourself! Contohnya, dengan pengucapan ‘tetaplah jadi diri kita apa saja yang akan terjadi’ dan lain-lain. Pasti ada-ada saja yang memaki, tetapi yang memberikan pujian pada juga tentu ada juga. Lagian, apa masalah anda dengan orang lain?

Ini ialah hidup anda serta cuma anda sendiri yang niat sholat tarawih menjalaninya. Anda susah, cuma anda yang merasakan. Begitu juga bila bahagia, tidak ada yang merasakan terkecuali anda sendiri. Kenapa anda harus merepotkan diri menjadi orang lain?

Pertanyaannya selanjutnya, bila satu orang ikuti apa-apa yang sudah disebutkan oleh beberapa motivator itu, bisakah dia disebutkan sudah jadi dirinya? Jawaban dari pertanyaan ini tentunya bermacam. Serta semasing orang yang menjawab akan merasakan jika sudah jadi dirinya.

Nah, berkaitan dengan jadi diri kita dengan apa yang ada itu, Ki Ageng Suryomentaram, filsuf Jawa era 19, mewariskan saran yang cukup mengagetkan.

Orang yang merasakan berlainan tidak dapat apa yang ada

Bagaimanapun, tiap orang memang akan selalu punya subjektivitasnya semasing. Menurut Ki Ageng, subjektivitas ini menempel dalam diri manusia sejak dia merasakan punya segala hal seperti ibuku, bapakku, mainanku, dan lain-lain. Sebab rasa subjektif itu sudah demikian melekatnya dalam diri tiap orang, hingga orang tidak sempat mengerti jika subjektivitas itu sering bertentangan dengan fakta netral yang ada.

Supaya tidak berpanjang-panjang serta berasa orisinalitasnya, saya kutipkan saja saran Ki Ageng dalam bahasa aslinya sebagai berikut.

Raos ingkang butuh dipun sumerepi punika raosipun piyambak, jalaran sanajan tiyang ngertos dhateng beberapa barang, nanging boten ngertos dhateng raosipun piyambak, murugaken sulaya kaliyan awakipun piyambak inggih punika perang batin. Tiyang punika ajrih sumerep dhateng awakipun piyambak, mila dipun tutup-tutupi supados boten kados awakipun piyambak, yen awakipun piyambak sampun boten kados awakipun piyambak, raosipun senang. Dados tiyang punika boten senang yen namung kados awakipun piyambak.

(Rasa yang penting untuk didapati ialah rasa yang berada di dalam diri kita. Sebab walau kita tahu beberapa hal, tetapi tidak mengerti rasa yang berada di dalam diri, kita akan berbeda dengan diri kita, yang berbentuk munculnya perselisihan batin. Ya, sebab pada intinya, dengan naluriah manusia itu takut untuk melihat dirinya dengan apa yang ada. Oleh karena itu karena itu dia membuat selubung untuk membungkus diri supaya tidak kelihatan seperti terdapatnya. Bila diri satu orang tidak kelihatan seperti terdapatnya, karena itu dia juga merasakan senang. Jadi manusia itu malah tidak senang saat melihat dirinya seperti terdapatnya).

Mangga kanca-kanca kula ajak naliti awakipun piyambak ingkang ajrih dhateng awakipun piyambak. Saderengipun kula terangaken alasan: “Tiyang punika ajrih sumerep awakipun piyambak, punika sedaya tiyang sami.” Nanging tiyang ajrih sumerep dhateng kanyatan yen awakipun piyambak punika sami kaliyan saben tiyang. Mila pados tutup kangge nutupi supados beda kaliyan tiyang sanes, lajeng ngaya-aya pados semat, drajat, kramat, kangge tutup.

(Silahkan teman-teman saya ajak mempelajari kita yang ketakutan pada diri kita. Terlebih dulu saya beri alasan, “Pada dasarnya tiap orang tidak punya keberanian untuk lihat dirinya seperti terdapatnya, serta kebanyakan orang memang semacam itu.” Tetapi, kesaksian pada bukti jika kebanyakan orang itu sebenarnya sama juga sudah jadi momok yang menakutkan. Karenanya orang lalu cari selubung supaya dianya terlihat berlainan dari orang lain. Jadi mengakibatkan, orang juga lalu berusaha keras supaya memperoleh harta benda, posisi atau martabat, serta wibawa atau kemuliaan untuk dijadikannya jadi penutup diri).

Berarti, tiap orang sebenarnya dapat jadi dirinya. Tetapi sebab orang biasanya tidak ingin terima jika fakta dianya itu sebenarnya benar-benar jelek, karena itu orang juga lalu berupaya tutupi dianya dengan subjektivitas yang dia anggap baik. Serta, dengan tutupi dianya memakai suatu hal yang dia anggap baik itu, orang lalu merasakan jika dianya sudah jadi orang baik.

Karena itu tidak mengejutkan bila segala hal yang dengan fitrahnya baik, juga lalu jadi tidak baik hanya karena dipakai jadi penutup diri yang sebenarnya tidak baik. Contoh yang paling jelas benderang di negeri ini, semua agama pada intinya ialah baik. Tetapi saat norma-norma agama cuma digunakan untuk tutupi keburukan diri beberapa pemeluknya, ya sebenarnya seperti yang kita lihat setiap hari di seputar kita.

Insan Kamil

Lalu, jalan keluar yang ditawarkan Ki Ageng ialah jadi manusia prima. Tetapi ini benar-benar bukan ide kesempurnaan ala insan kamil-nya Ibn Arabi yang arkaik serta diaminkan oleh beberapa sufi yang lain. Ya, menurut Ibn Arabi, insan kamil ialah manusia prima dalam sisi bentuk serta pengetahuannya. Yakni jika manusia adalah aktualisasi prima dari citra Tuhan, yang pada dianya tercermin beberapa nama serta karakter Tuhan dengan utuh, serta berpengetahuan sebab sudah sampai kesadaran paling tinggi akan kesatuan esensinya dengan Tuhan. bukan Ubermensch ala Friedrich Nietzsche yang memutlakkan kehendak bebas dalam diri manusia hingga membuat Tuhan “terbunuh”.

Ide manusia prima Ki ageng Suryomentaram ialah suatu hal yang benar-benar simpel, meskipun bila dikerjakan dengan sebenar-benarnya, dia tidak berlainan dengan insan kamil beberapa sufi serta ubermensch Nietzche sekaligus juga. Yakni, manusia prima ialah manusia yang tidak perlu kesempurnaan sebab sudah dapat mendayakan berbagai kekurangan yang berada di dalam dianya.

Dalam bahasa Ki Ageng, “Pramila tiyang nalika rumaos klentu, bingung, jampinipun namung sabda makaten: Ora ana jing akan ngukum menyang kowe, janji kok pindo, kon ping telu slamet!” (Karenanya bila manusia merasakan sudah lakukan kekeliruan, lalu bingung, karena itu jalan keluarnya ialah sabdanya sendiri, “Tak aka suara yang dapat menghukummu, demikian kesalahanmu engkau ulangilah satu kali lagi, karena itu ulangilah untuk ke-3 kalinya serta engkau juga selamat!”).

Ya, manusia prima bukan manusia yang tanpa ada kekeliruan. Tetapi waktu sudah terburu lakukan kekeliruan di bumi, dia tak perlu menanti “pengadilan Tuhan” di akhirat tetapi langsung melakukan perbaikan saat itu juga. Bila ikhtiar yang telah diusahakan dengan optimal itu belum membawa hasil, karena itu usahanya yang terakhir—apa juga capaiannya—telah selamatkan keberadaannya jadi khalifah Tuhan di bumi. Wallaahu a’lam bishshawwab.