Citarasa Apel Tersaji dalam Secangkir Kopi dari Petani Kota Batu

Post Reply
asepx
Maba
Posts: 43
Joined: 15 Jun 2020, 13:15

Citarasa Apel Tersaji dalam Secangkir Kopi dari Petani Kota Batu

Post by asepx »

Puluhan tanaman kopi berderet tumbuh berdampingan dengan tanaman kopi di kebun milik Oktavian Dwi Suhermanto, rakyat Kota Batu. Aroma serta rasa kopi yang tersaji begitu subtil layaknya merasakan butir apel. Karakter rasa itu didapatkan karena kopi bisa menyerap banyak sekali unsur yang terdapat di sekitarnya.

Biji kopi beraroma apel itu dipetik berasal kebun yang berada pada Dusun Buludendeng, Desa Bulukerto, Bumiaji, Kota Batu. Letaknya tidak jauh, berada pada belakang tempat tinggal pemuda berusia 25 tahun itu. Apel serta kopi tumbuh berdampingan di hamparan lahan seluas 800 meter persegi.

Pola polikultur itu berawal dari sebuah eksprimen. pria yang akrab disapa Herman itu berkata, semula kebun itu hanya ditanami apel saja. kemudian keluarganya mulai menanam tumbuhan-tumbuhan lainnya. keliru satunya kopi yg hingga sekarang dipertahankan.

“Dulu sempat punya niat tanaman kopi mau dibabat habis. akan tetapi sama ayah saya nggak boleh,” tutur mahasiswa Jurusan Kehutanan UMM ini dilansir Nusadaily.com.

Anjuran yang diberikan sang ayahnya ternyata sebagai asal rezeki tatkala panen apel tidak lagi menjanjikan. Biji kopi yg dihasilkan diolah menjadi bubuk serta dipasarkan menggunakan brand Kopi Siman. Logo yg ditampilkannya pun berbentuk butir apel dikombinasikan menggunakan biji kopi. “Siman itu kepanjangan berasal siji dieman-eman (satu disayang-sayang),” istilah Herman.

Herman mengatakan, diambilnya nama Siman ini berkaitan dengan tanaman kopi yg tetap dipertahankannya sekarang. Meski awalnya sempat mempunyai niatan buat dibabat habis. Maka jadilah nama kopinya Siman.

namun sebelumnya Herman sudah memiliki ketertarikan dengan kopi semenjak masih kuliah. Mahasiswa Jurusan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sempat praktik kerja lapang (PKL) di kebun kopi di Kabupaten Bondowoso. pada sana, ia mengetahui adanya kopi yang berharga mahal.

beliau pun berpikir hal tersebut mampu keutamaan puasa syawal diterapkan di Kota Batu. Apalagi, Herman mengetahui sendiri jika di Kota Batu jua mempunyai banyak tumbuhan kopi. Terinspirasi asal pengalamannya PKL itulah, Herman mulai menggeluti dunia kopi.

beliau bahkan sempat bekerja di beberapa daerah sekadar buat bisa menghasilkan kopi dengan seduhan yg tepat. kembali ke tempat tinggal dan berkumpul dengan famili, Herman berbagi potensi yg terdapat. Keluarganya kerja beserta mengelola kopi yg kini semakin poly tumbuh di lahannya. Dikatakan Herman, ayahnya bertanggungjawab terhadap kondisi sampai jadwal panen kopi pada huma.

Pasca panen, sebagai tanggung jawab ibunya. lalu, Herman sendiri bertugas untuk memasarkan produk kopi yang telah diolah. Sebuah mesin penggiling kopi donasi berasal Dinas Pertanian Kota Batu diakui Herman banyak membantu pekerjaannya. dalam sehari, bisa membentuk puluhan kilogram kopi. kemudian dikemas menggunakan bagus dan dipasarkan.

Herman berkata, pemasarannya saat ini masih berputar di kawasan Kota Batu. ia pun wajib bekerja keras supaya pemasarannya mampu tembus luar kota. Produknya berupa serbuk maupun biji-bijian atau istilahnya pada green bean. buat harga produk kopi bubuknya ada 2 yaitu 100 gram harganya Rp 20 ribuan, 200 gr harganya Rp 40 ribu. Sedangkan untuk produk olahan green bean, harganya mencapai Rp 350 ribu per 5 kilogram.

“umumnya kami memanen kopi ini selama satu tahun menghasilkan sekitar 600 kilogram lebih menggunakan luas huma 10 hektar milik petani yang tergabung dari gerombolan Tani Sri Makmur. dari yang akan terjadi panen tersebut kita olah dan kemas menjadi produk olahan yg kami beri nama Kopi Siman,” jelasnya.

Omset yg didapat sebulan mencapai Rp 4 juta. Pendapatan itu dinilai masih masih cukup ideal. Bahkan mampu melunasi utang Rp 10 juta yang digunakan buat modal usahanya.

Herman menjelaskan penanaman kopi yg ia lakukan terbagi menjadi 2 termin yakni tahap hulu serta hilir. di tahap hulu mencakup penanaman, perawatan, pengendalian hama, pemanenan, sampai proses pasca panen. Sedangkan buat tahap hilir mencakup roasting atau penggorengan kopi, penumbukan, hingga pengemasan produk.

detail dalam termin penanaman, umumnya dilakukan ketika bulan basah atau lebih tepatnya waktu demam isu hujan. sesudah melakukan penanaman, kemudian dilakukan perawatan dengan cara pruning/ wiwil istilah yang dipergunakan buat memperbaiki dan mengatur arah cabang kopi.

Selain itu pula terdapat pengendalian hama tanaman. biasanya tumbuhan kopi mengalami penyakit hama trips hitam serta Hemilia Vastratrix (karat daun). buat mencegah hama tersebut, dilakukan dengan cara pemberian pupuk kandang, baik itu pupuk kandang cair juga padat.

“pemberian pupuk tidak boleh telat. dalam setahun hanya sekali saja diberi pupuk, yakni waktu demam isu kering,” terangnya.

Usai melakukan pengendalian hama tumbuhan, dilakukan proses pemanenan yang dilakukan setiap satu tahun sekali. umumnya dalam pemanenan kopi ini, membentuk sebesar 8 kilogram glondong basah yg masih berbentuk butir merah. sehabis itu, dilakukan proses pasca panen yang meliputi proses basah serta kemarau.
Post Reply